Selasa, 01 Januari 2013

DAGING KONSUMSI


MAKALAH MIKROBIOLOGI PANGAN
KERUSAKAN PADA BAHAN PANGAN DAGING

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bahan makanan, selain merupakan sumber gizi bagi manusia, juga merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan dapat menyebabkan perubahan yang menguntungkan seperti
perbaikan bahan pangan secara gizi, daya cerna ataupun daya simpannya. Selain itu pertumbuham mikroorganisme dalam bahan pangan juga dapat mengakibatkan perubahan fisik atau kimia yang tidak diinginkan, sehingga bahan pangan tersebut tidak layak dikomsumsi. Kejadian ini biasanya terjadi pada pembusukan bahan pangan (Sutaryo 2004).
Bahan pangan dapat bertindak sebagai perantara atau substrat untuk pertumbuhan mikroorganisme patogenik dan organisme lain penyebab penyakit. Penyakit menular yang cukup berbahaya seperti tifus, kolera, disentri, TBC, mudah tersebar melalui bahan makanan. Gangguan-gangguan kesehatan, khususnya ganguan perut akibat makanan disebabkan, antara lain oleh kebanyakan makan, alergi, kekurangan zat gizi, keracunan langsung oleh bahan-bahan kimia, tanaman atau hewan beracun, toksin-toksin yang dihasilkan bakteri mengkomsumsi pangan yang mengandung parasit-parasit hewan dan mikroorganisme. Gangguan-gangguan ini sering dikelompokkan menjadi satu karena memiliki gejala yang hampir sama (Albiner 2002)
Secara umum, istilah keracuan makanan yang sering digunakan untuk menyebut gangguan yang disebabkan oleh mikroorganisme., mencakup gangguan-gangguan yang diakibatkan termakannya toksin yang dihasilkan organisme-organisme tertentu dan gangguan-gangguan akibat terinfeksi organisme penghasil toksin (Albiner 2002). Toksin-toksin dapat ditemukan secara alami pada beberapa tumbuhan dan hewan atau suatu produk metabolit toksik yang dihasilkan suatu metabolisme. Dengan demikian, intoksikasi pangan adalah gangguan akibat mengkonsumsi toksin dari bakteri yang telah terbentuk dalam makanan, sedangkan infeksi pangan disebabkan masuknya bakteri ke dalam tubuh melalui makanan yang telah terkontaminasi dan sebagai akibat reaksi tubuh terhadap bakteri atau hasil-hasil metabolismenya (Supardi dan Sukanto1999).

Tujuan
            Mengetahui penyebab terjadinya kerusakan pada daging dan ciri-ciri kerusakan serta cara penyimpanan yang baik terhadap daging.

TINJAUAN PUSTAKA

Bahan Pangan


Sejak saat bahan pangan dipanen, dikumpulkan, ditangkap atau disembelih, bahan tersebut akan mengalami kerusakan. Kerusakan ini akan berlangsung sangat lambat atau sangat cepat tergantung dari macam bahan

pangan (Susiwi 2009). Bahan pangan

mentah dapat menjadi rusak atau busuk karena beberapa penyebab, diantaranya adalah adanya aktifitas mikroba di dalam bahan pangan dan secara fisik akibat dari proses produksi bahan pangan itu sendiri (misalnya pemanenan, pengiriman ke pasar atau ke konsumen). Dalam pemilihan bahan pangan yang merupakan hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan harus memperhatikan beberapa hal seperti, penampilannya baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan atau kebusukan, waktunya tidak terlalu lama sejak dipanen atau dipotong, kondisi fisiknya sudah cukup tua (matang) sesuai dengan umur panen (Handono 2011).
Semua makluk hidup memerlukan makanan untuk pertumbuhan dan mempertahankan kehidupannya. Bakteri, khamir dan kapang, insekta dan rodentia (binatang pengerat) selalu berkompetisi dengan manusia untuk mengkonsumsi persediaan pangannya (Albiner 2002). Senyawa organik yang sangat sensitif dalam bahan pangan, dan keseimbangan biokimia dari senyawa tersebut, akan mengalami destruksi oleh hampir semua variabel lingkungan di alam. Panas dan dingin, cahaya, oksigen, kelembaban, kekeringan, waktu, dan kandungan enzim dalam bahan pangan itu sendiri, semua cenderung merusakkan bahan pangan.

Daging
            Daging didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai untuk dimakan dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang memekannya. Munurut Forest et al. (1975) bahwa komposisi kimia daging terdiri dari protein yang kandungannya berfariasi antara 16-20% lemak, 1,5-13% senyawa non protein, 1,5% nitrogen, 1,0% senyawa organic dan air berfariasi antara 65-86%. Adapun kandungan lemaknya terdiri dari fosfolipida, cerebrosida, kolesterol, dan asam lemak esensial (Sutaryo 2004).
            Salah satu sifat daging dan produk hasil ternak adalah mudah mengalami kerusakan. Daging mudah mengalami kerusakan akibat adanya aktivitas pada daging atau produk daging, karena daging memenuhi persyaratan untuk perkembangan mikroorganisme termasuk mikroorganisme perusak, karena:
a.       Mempunyai kadar air yang tinggi (68-75%)
b.      Kaya dengan zat yang mengandung nitrogen dgn komplek yg berbeda
c.       Karbohidrat yg tinggi
d.      Kaya akan mineral untuk pertumbuhan    mikroba
e.       Mempunyai pH yang menguntungkan bagi sejumlah mikroorganisme (5,3-6,5) (Albiner 2002)
Keberadaan mikroorganisme pada pangan tak terkecuali daging atau produk olahan daging dipengaruhi oleh faktor-faktor, yaitu:
1.      Faktor intrinsik yang meliputi : aktivitas air, komposisi nutrien, pH, potensial redoks, adanya bahan pengawet alami dan tambahan.
2.      Faktor pengolahan
3.      Faktor ektrinsik yang meliputi suhu, kelembapan dan susunan gas,
4.      Faktor implisit (berbagai mikroba yang terdapat pada bahan makanan kadang-kadang mengakibatkan dua atau lebih jenis mikroorganime hidup bersama saling menguntungkan atau sebaliknya yang satu merugikan pertumbuhan mikroorganisme lain
5.      Faktor makana, yang pada dasarnya terbagi atas makanan yang mudah rusak, makanan yang awet dan bahan pangan yang awet (Supardi dan Sukanto1999).
Karena daging atau produk daging proses sangat mudah mengalami kerusakan oleh adanya aktivitas mikroorganisme perusak maka diperlukan penanganan penyimpanan atau pengolahan yang sesuai. Pada dasrnya metode-metode penyimpanan atau pengolahan tersebut hanya bisa menghambat pertumbuhan mikroorganime perusak, sehingga dari tiap metode hanya bisa mempertahankan kualitas daging atau daging proses untuk jangga waktu yang terbatas (Soeparto 1992). Terkecuali proses penanganan dengan metode sterilisasi yang bisa mempertahankan kualitas daging dan daging proses dalam jangga waktu yang lama dengan catatan bahwa persyaratan yang lain tetap terpenuhi seperti keadaan pengemasan yang baik.

analisis dan PEMBAHASAN


Kerusakan daging ditandai oleh terbentuknya senyawa-senyawa berbau busuk seperti amonia, H2S, indol, dan amin, yang merupakan hasil pemecahan protein oleh mikroorganisme. Daging yang rusak memperlihatkan perubahan organoleptik, yaitu bau, warna, kekenyalan, penampakan, dan rasa (Simanjuntak dan Rivai 2009). Berbagai tanda-tanda kerusakan pada daging:

a. Perubahan kekenyalan pada daging disebabkan oleh pemecahan struktur daging oleh berbagai bakteri.
b. Pembentukan lendir pada daging disebabkan oleh pertumbuhan berbagai mikroba seperti kamir, bakteri asam laktat (terutama oleh Lactobacillus, misalnya Lactobacillus. Viredences yang membentuk lendir berwarna hijau), Enterococcus, dan Bacillus thermosphacta.
c. Pembentukan asam, umumnya disebabkan oleh berbagai bakteri seperti Lactobacillus, Acinebacter, Bacillus, Pseudomonas, proteus,Microrocci, Clostidium, dan enterokoki.
d. Pembentukan warna hijau pada daging, terutama disebabkan oleh: pembentukan hydrogen peroksida (H2O2) oleh Lactobacillus Viridescens,
Lactobacillus fructovorans, Lactobacillus jenseni Di, Leuconostoc, Enterococcus faecium dan Enterococcus faecalis, pembentukan hidrogen sulfida (H2S) oleh Pseudomonas mephita, Shewanell putrefaciens, dan Lactobacillus sake.
e. Pembentukan warna kuning pada daging, disebabkan oleh Enterococcus cassliflavus dan Enterococcus mundtii.
f. Perubahan bau, misalnya: timbulnya bau busuk oleh berbagai bakteri karena
terbentuknya amonia, H2S, Indol dan senyawa-senyawa amin seperti diamin
kadaverin dan putresin.



Metode Penyimpanan Daging dan Pengaweta Daging
A.    Refrigeneresi
Penyimpanan karkas atau daging pada suhu dingin, meskipun dalam waktu yang singkat tetap diperlukan untuk mengurangi kontaminasi atau mengendalikan perkembangan mikrooraganime. Kemungkinan kerusakan daging atau karkas selama penyimpanan daging dapat diperkecil dengan cara penyimpanan karkas dalam bentuk yang dipotong-potong
Temperatur internal karkas sesaat setelah pemotongan yang berkisar antara 30-390C, selama penyimpanan dingin temperatur internal tersebut segera diturunkan sampai kuarng lebih 50C atau lebih dingin. Faktor yang mempengaruhi laju pendingian antara lain, panas spesifik karkas atau kapasitas panas, berat ukuran karkas, jumlah lemak eksternal, temperatur udara lingkungan pendingin, jumlah karkas dlam ruang pendingin dan jarak antara karkas (Muchtadi, Tien R. 1989).
Kelembapan relatif di dalam ruangan sebaiknya dijaga tetap tinggi (88-92%) untuk mencegah pengerutan karkas yang berlebihan yang disebabkan oleh hilangnya cairan karkas selama proses pendinginan. Penyimpanan dingin sebaiknya dibatasi dalam waktu yang relative singkat, karena perubahan-perubahan kerusakan yang meningkat sesuai dengan lama waktu penyimpanan. Faktor yang mempengaruhi penyimpanan daging dingin antara lain adalah jumlah mikroba awal, temperature dan kelembapan selama penyimpanan (Supardi dan Sukanto 1999).
B.     Pembekuan
Beberapa persyaratan untuk memperoleh hasil daging beku yang baik adalah:
1.      Daging segar harus berasal dari ternak yang sehat
2.      Pengeluaran darah saat pemotongan harus sesempurna mungkin,
3.      Temperature daging harus segera diturunkan pada temperature dingin
4.      Daging dibungkus dengan menggunakan material yang berkualitas baik, dan
5.      Temperatur pembekuan setidaknya 180C atau lebih rendah
Pembekuan merupakan metode yang sangat baik untuk pengawetan daging dan daging proses. Nilai nutrisi daging secara relatif tidak mengalami perubahan selama pembekuan dan penyimpanan beku dalam waktu yang terbatas. Laju pembekuan ada dua macam yaitu, pembekuan lambat dan pembekuan cepat. Waktu yang diperlukan untuk melewati temperatur 00C – 50C biasanya dipergunakan sebagai petunjuk kecepatan pembekuan (Simanjuntak dan Rivai 2009).
C.    Prosses Termal
Perlakuan termal adalah metode yang dipergunakan untuk membunuh mikroorganisme pembusuk dan mikroorganisme toksigenik di dalam daging atau daging proses. Jumlah panas yang digunakan pasa preservasi atau daging proses ada dua macam yaitu pemanasan sedang atau moderat temperature produk mencapau 580C-750C dan pemanasan pada temperatur tinggi, yang biasanya lebih tinggi dari 1000C.
D.    Iradiasi
Metode preservasi daging dengan radiasi umumnya mengunakan radiasi mengion terhadap produk. Radiasi mengion adalah radiasi yang mempunyai energi dan cukup untuk melepaskan elektron dari atom dan menghasilkan ion.
E.     Preservasi Kimia
Bahan kimia yang dipergunakan untuk preservasi dagimempunyai sifat antara lain:
1.      Menghambat atau mencegah perubahan kualitas daging selama penyimpanan terbatas.
2.      Memperpanjang masa simpan,
3.      Sebagai bahan pengawet,
4.      Menambah nilai gizi, aroma dan rasa
5.      Sebagai pewarna, pengatur pH dan pengatur kelembapan
F.     Pengasapan
            Pengasapan adalah proses pengawetan daging dengan cara memberikan asap pada daging dalam suhu dan jangka waktu tertentu. Tujuan utama pengasapan adalah pengembangan cita rasa, pengawetan, pengembangan warna, membuat atau menciptakan produk baru, dan melindungi dari oksidasi lemak (Soeparto 1992).
            Pengasapan dapat dikerjakan dengan metode antara lain, pengasapan panas, pengasapan dingin, kadang campura dari metode tersebut dan dengan metode elektrotsatis smoking. Pengasapan dilakukasn selama 4-8 jam di dalam almari pengasap.
            Proses pengasapan mempunyai beberapa akibat antara lain pengeruh yang bersifat mengawetkan yang timbulkan oleh penyimpanan atau penimbunan di permukaan daging senyawa kimia seperti formaldihid, asetaldehida, aseton diasetil, methanol, etanol, fenol, dan banyak senyawa lainnya (Siamanjuntak dan Rivai 2009).

KESIMPULAN

Daging merupakan bahan pangan yang sangat cepat mengalami kerusakan. Kerusakan pada daging umunya disebabkan oleh mikroorganisme. Jenis-jenis kerusakan pada daging antara lain, penbentukan asam, pembentukan hijau, berlendir, berbau. Adapun cara penyimpanan bahan pangan daging dapat dilakukan dengan, refrigenerasi, pendinginan, pembekuan, pengasapan, bahan kimia, proses termal dan iradiasi.

DAFTAR PUSTAKA

Albiner S.2002. Mikroba Patogen pada Makanan dan Sumber Pencemarannya, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, 2002 digitized by USU digital library
Muchtadi, Tien R.1989. Teknologi Proses Pengolahan Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.
Simanjuntak E, Rivai M. 2009. Deteksi Kebusukan Daging menggunakan
Sensor Polimer Konduktif dan Neural Network. Surabaya: Seminar Nasional Pascasarjana IX – ITS, ISBN No. 978-979-96565-5-1
Soeparto. 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Yogyakarta: UGM Press 
Supardi I, Sukanto. 1999. Mikrobiologi dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan. Alumni. Bandung
Susiwi. 2009. Kerusakan Pangan. Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia
Sutaryo. 2004. Penyimpanan dan Pengawetan Daging. Semarang: Universitas Ponogoro.


Senin, 24 Desember 2012

EKOSISTEM AIR TAWAR ( AQUARIUM)



EKOSISTEM AIR TAWAR BUATAN
(AQUARIUM)

 BAB I. PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Setiap komponen biotik dan abiotik selalu berintertaksi membentuk hubungan yang saling ketergantungan, misalnya makhluk hidup memerlukan udara untuk bernapas, tumbuhan hijau memerlukan cahaya untuk berfotosintesis. Selain itu ketergantungan komponen abiotik terhadap komponen biotik, misalnya cacing tanah menggemburkan tanah, tumbuhan untuk menahan erosi, tumbuhan hijau untuk mengurangi pencemaran udara. Interaksi antar komunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tetapi juga aliran energi dan makanan.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.
Habitat air sebagai tempat hidup dari organisme perairan memiliki porsi relative lebih kecil dibandingkan dengan daratan danlautan,namun di lihat kepentingan bagi mahluk hidup sangat lah besar. Air tawar yang relatif lebih muda untuk dimanfaatkan terutama berasal dari air permukaan (sungai, danau, rawa) dan air tanah.
Berdasarkan proses terbentuknya, ekosistem dibagi menjadi dua macam, yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan. Ekosistem alami adalah ekosistem yang terbentuk secara alami misalnya danau, rawa, hutan. Ekosistem buatan adalah ekosisten yang sengaja dibuat manusia. Contohnya sawah, kolam, dan aquarium.
Kebutuhan akan air dari waktu-waktu semakin meningkat. Di dalam ekosistem terjadi suatu interaksi dan keseimbangan antara komponen satu dengan yang lainnya. Ekosistem buatan ini menggambarkan sebagian kecil dari ekosistem air tawar yang ada di biosfer ini. Itulah sebabnya kita semestinya bagaimana interaksi yang terjadi, salah satu bentuk itu kita melakukan pratikum ini.

B.     Tujuan
Adapun tujuan dari praktek ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui interasi dan prilaku masing-masing konponen yang ada didalam ekosistem aquarium (biotic dan abiotik).
2.      Untuk mengetahui keseimbangan antara konponen satu dengan yang lainnya
3.      Untuk mengetahui perubahan suhu dan pH dalam aquarium sebagai akibat perobakan bahan organik
C.    Manfaat dan Kegunaan
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah kita dapat mengetahui kehidupan biota air tawar dari interaksi, penyesuaian dan persaingan antara konponen yang ada didalamnya


BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Ekosistem adalah kesatuan komunitas dengan lingkungan hidupnya yang membentuk hubungan timbal balik. Berdasarkan proses terbentuknya, ekosistem dibagi menjadi dua macam, yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan. Ekosistem alami adalah ekosistem yang terbentuk secara alami misalnya danau, rawa, hutan. Ekosistem alami dapat dibedakan lagi kedalam beberapa jenis ekosistem, yaitu ekosistem darat, air tawar, air laut, dan pantai. Ekosistem darat di bedakan atas beberapa bioma seperti gurun, padang rumput, hutan basah, hutan gugur, taiga dan tundra. Ekosistem air tawar dibedakan atas danau, rawa, dan sungai. Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan. Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup (Prasetyo. 2008).
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Ekosistem buatan adalah ekosisten yang sengaja dibuat manusia. Contohnya sawah, kolam, dan akuarium. Aquarium berasal dari bahasa latin, aqua berarti air dan rium artinya (tempat atau bangunan) suatu tempat yang umunya dibuat dari plastic tembus pandang, berisi air dan ikan binatang laingnya dan tumbuhan yang hidup didalamnya (Mismail. 2010).
Aquarium merupakan suatu ekosistem aquatik buatan yang terbuat dan bejana atau bak kaca, sehingga kehidupan di dalam air tersebut dapat terlihat jelas dan luar. Di dalam aquarium terdapat unsur biotik yang berupa ikan-ikan hias, siput, udang, binatang-binatang karang, kura-kura dan tumbuh-tumbuhan air. Air, koral, udara, batu-batuan dan cahaya merupakan unsur-unsur benda mati yang disebut unsur abiotik. Perpaduan antara kedua unsur tersebut menghasilkan ekos istem yang serasi dan seimbang, sehingga akan merupakan suatu pemandangan yang indah dan menarik (Heru Susanto. 2003).
Manusia sering merasa bosan jika di dalam kehidupan sehari harinya dihadapkan kepáda hiburan yang sejenis saja. Menonton merupakan suatu hiburan, tetapi hal tersebut sudah merupakan suatu kebiasaan sering menimbulkan kebosanan bahkan sudah tidak berfungsi sebagai hiburan lagi. Manusia senantiasa berusaha untuk mencari berbagai macam bentuk hiburan yang lain yang dapat mendatangkan kepuasan bagi dirinya. Di antara sekian banyak pilihannya adalah aquarium. Aquarium sebagai sarana hiburan cukup banyak penggemarnya baik di dalam negeri maupun di mancanegara (Darti Satyani. 2005). Suatu bukti yaitu makin berkembangnya budi daya ikan hias, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk diekspor.
Aquarium merupakan suatu media pemeliharaan hewan kesayangan yang amat menarik (Atmawinata 2007). Selain iti aquarium juga sering digunakan pada pembudidayaan ikan, baik ikan hias maupun ikan konsumsi. Di dalam penelitian kehidupan aquatic aquarium sering dijadikan sebagai suatu model ekosistem aquatik (Heru Susanto. 2003).
Aquarium air tawar yaitu aquarium yang memiliki bentuk ekosistem air tawar. Kadar garam sangat rendah dengan komunitas air tawar yang terdiri atas ikan-ikan hias air tawar, udang air tawar, siput air tawar dan tumbuh-tumbuhan air tawar. Pengelolaan aquarium air tawar ternyata lebih mudah, sehingga lebih banyak penggemarnyà. Walaupun demikian aquarium air laut juga memiliki beberapa keunggulan, yaitu memiliki variasi kehidupan yang lebih kaya.
Aerator adalah alat yang berfungsi untuk memompakan udara ke dalam. air, sehingga air cukup banyak mengandung oksigen untuk pernapasan. Dengan adanya aerator maka kadar oksigen di dalam air senantiasa akan terpenuhi, tanpa mengandalkan oksigen yang terkandung di dalam air secara alami (Darti Satyani. 2005).
Aerator selain berfungsi sebagai pompa udara sekaligus berfungsi untuk mendorong air ke dalam filter (saringan) untuk membersihkan air dan kotoran-kotoran (Mismail 2010 dan Darti Satyani. 2005). Aerator juga berfungsi untuk menggerakkan benda-benda dekorasi yang bergerak seperti kincir dan dekorasi keramik lainnya. Udara dipompakan oleh aerator kemudian disalurkan melalui selang plastik dan ke luar dalam bentuk gelembung-gelembung udara yang naik. Gelembung-gelembung tersebut akan mendorong bagian dekorasi yang digerakkannya. Tenaga yang digunakan untuk menggerakkan aerator adalah sumber listrik AC (PLN) dengan daya yang rendah ± 4 Watt. Aerator ada yang memiliki satu lubang udara ada juga yang memiliki dua lubang udara. Satu lubang untuk pompa udara dan filter, satu lubang untuk menggerakkan dekorasi (Darti Satyani. 2005).
Dalam ekosistim air tawar buatan setiap komponen biotik dan abiotik selalu berintertaksi membentuk hubungan yang saling ketergantungan, misalnya makhluk hidup memerlukan udara untuk bernapas, tumbuhan hijau memerlukan cahaya untuk berfotosintesis. Selain itu ketergantungan komponen abiotik terhadap komponen biotik, misalnya cacing tanah menggemburkan tanah, tumbuhan untuk menahan erosi, tumbuhan hijau untuk mengurangi pencemaran udara (Prasetyo. 2008).
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru  (Prasetyo. 2008).

BAB III. METODOLOGI

A.    Tempat dan Waktu Penelitian
Praktikum pengamatan ekosistem buatan air tawar ini di laksanakan pada tanggal 20 sampai 22 Maret 2012, dengan 2 kali pengamatan setiap hari yaitu pagi jam 07:30 dan sore 16:00. Pengamatan ini dilakukan di Laboratorium Biologi, Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi, Universitas Bangka Belitung, di Balunijuk
B.     Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya Aquarium, Aerator, lampu anti kuman, saringan, gayung, ember, kertas pH, dan thermometer, sedangkan bahan yang digunakan adalah ikan air tawar (kura-kura 1 ekor, ikan tanah 2 ekor, ikan cepat 2 ekor, ikan krincah 2 ekor, ikan gabus 1 ekor, udang 1 ekor, kepiting 1 ekor, hidrylla 14.
C.    Prosedur Kerja
1.      Bersihkan Aquarium, pasir dan kayu yang akan dimasukkan
2.      Masukkan pasir kedalam Aquarium dan ratakan sedalam 2 cm
3.      Masukkan kayu jati dan ditata sedemikian rupa
4.      Ffhhj
5.      Isi air kedalam Aquarium secara perlahan
6.      Ukur pH dan suhu air dalam Aquarium
7.      Masukkan hidrylla, ikan, udang, kepiting dan kura-kura  kedalam Aquarium
8.      Ukur pH dan suhu air setiap pengamatan sampai hari ketiga (kamis)

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan
Tabel 1 hasil pengamatan ekosistem buatan  air tawar pada tanggal 20 sampai 22 Maret 2012, dengan 2 kali pengamatan setiap hari yaitu pagi jam 07:30 dan sore 16:00. Pengamatan ini dilakukan di Laboratorium Biologi.
Table 1. Hasil pengamatan ekosistem buatan  air tawar pagi dan sore pada hari selasa, tanggal 20 Maret 2012.
Waktu pengamatan
Kondisi fisik air
pH air
Suhu (%)
Komponen Aquarium
Jumlah
keterangan




07:30




Jernih/bening




5




28
Kura-kura
Ikan tanah
Ikan cepat
Ikan krincah
Ikan gabus
Udang
Kepiting
Hidrylla
1
2
2
2
1
1
1
Konponen aquarium semua dalam keadaan  normal




16:00




Agak keruh




5




29
Kura-kura
Ikan tanah
Ikan cepat
Ikan krincah
Ikan gabus
Udang
Kepiting
Hidrylla
1
2
2
2
1
1
1
Konponen aquarium semua dalam keadaan  normal





Tabel 2. Hasil pengamatan ekosistem buatan  air tawar pagi dan sore pada hari rabu, tanggal 21 Maret 2012.
Waktu pengamatan
Kondisi fisik air
pH air
Suhu (%)
Komponen Aquarium
Jumlah
keterangan



07:30




Keruh




6




28
Kura-kura
Ikan tanah
Ikan cepat
Ikan krincah
Ikan gabus
Udang
Kepiting
Hidrylla
1
2
2
2
1
1
1
Ikan cepat (1) hamper mati, semua bagian sirifnya hilang, ekornya putus, ikan cepat (2) bagian ekornya luka (terdapat bercak merah merah-merah
Sedangkan yang lainnya tetap (normal)



16:00




Bening




6




29
Kura-kura
Ikan tanah
Ikan cepat
Ikan krincah
Ikan gabus
Udang
Kepiting
Hidrylla
1
2
2
2
1
1
1
Kedua ikan sepat mati, Sedangkan yang lainnya tetap (normal)






Tabel 3. hasil pengamatan ekosistem buatan  air tawar pagi dan sore pada hari kamis, tanggal 22 Maret 2012.
Waktu pengamatan
Kondisi fisik air
pH air
Suhu (%)
Komponen Aquarium
Jumlah
keterangan




07:30




Bening




5




29
Kura-kura
Ikan tanah
Ikan cepat
Ikan krincah
Ikan gabus
Udang
Kepiting
Hidrylla
1
2
2
2
1
1
1

Kedua ikan sepat mati, ikan gabus hilang, Sedangkan yang lainnya tetap (normal)




16:00




Bening




5




29
Kura-kura
Ikan tanah
Ikan cepat
Ikan krincah
Ikan gabus
Udang
Kepiting
Hidrylla
1
2
-
2
-
1
1
Kedua ikan sepat mati, ikan gabus hilang, Sedangkan yang lainnya tetap (normal)

B.     Pembahasan
Ekosistem buatan adalah ekosisten yang sengaja dibuat manusia. Contohnya sawah, kolam, dan akuarium. Aquarium berasal dari bahasa latin, aqua berarti air dan rium artinya (tempat atau bangunan) suatu tempat yang umunya dibuat dari plastik tembus pandang, berisi air dan ikan binatang lainnya dan tumbuhan yang hidup didalamnya (Mismail. 2010).
Dalam praktikum kali ini konponen aquarium yang duganakan adalah (kura-kura 1 ekor, ikan tanah 2 ekor, ikan cepat 2 ekor, ikan krincah 2 ekor, ikan gabus 1 ekor, udang 1 ekor, kepiting 1 ekor, hidrylla 14 serta pasir laut, batu, dan kayu-kayuan sehingga sesuai dengan bentuk aslinya.
Dalam praktek ini, pengamatan yang dilakukan selama 3 hari. Dimana hasil yang didapat bahwa ikan sepat yang pertama mati, ikan ini mati karena menjadi santapan kepiting. Kepiting memangsa ikan sepat karena ikan sepat yang paling kecil dalam pengamatan ini. Disini terjadi hubungan interaksi dimana spesies ikan sepat menjadi makanan bagi kepiting sedangkan ikan sepat sendiri mengalami kematian dalam hal ini mengallami kepunahan. Dan hubungan seperti ini biasanya disebut predasi. Syariffauzi (2009) mengatakan bahwa predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa.
Ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis) dan kepiting berasal dari pamili yang berbeda. Trichogaster pectoralis adalah sejenis ikan air tawar anggota suku gurami (Osphronemidae), dan memiliki ciri-ciri bagian tubuhnya lebar pipih, dengan mulut agak meruncing. Sirip-sirip punggung (dorsal), ekor, sirip dada dan sirip dubur berwarna gelap. Sepasang jari-jari terdepan pada sirip perut berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cam. Sedangkan kepiting (Scylla serrata) tergolong dalam pamili Portunidae. Kepiting sering dijadikan sebagai bahan makanan yang bernilai ekonomis tinggi. Ciri-ciri dari Scylla serrata adalah ukuran tubuhnya biasanya biasa mencapai 18 cm. Larva yang baru menetas bentuknya sangat berlainan dari bentuk dewasa, Larva ini biasanya mengalami beberapa kali perubahan bentuk sampai mendapatkan bentuk seperti yang dewasa (Anugerah. 2002).
Ikan gabus diklasifikasikan kedalam ordo Labyrintichi, family Ophiocephaloidae, genus Channa, Spesies Channa striata. Ikan memiliki bentuk tubuh hampir bulat panjang, makin kebelakang makin menjadi gepeng. Punggungnya cembung, perutnya rata, sirip punggung lebih panjang dari sirip dubur, sirip yang pertama disokong oleh 38-45 jari-jari lunak, sirip yang disebut belakangan disokong oleh 23-27 jari-jari sirip dada lebar dengan ujung membulat disokong oleh 15-17 jari-jari lunak. Sirip ekor membulat di ujungnya. Sisi atas tubuh--dari kepala hingga ke ekor berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, Gurat sisi ada 52-57 keping, panjang tubuhnya dapat mencapai 100 cm (Best Life. 2009).
Ikan Channa striata pada pengamatan ini hilang pada malam hari dan diduga dimakan oleh kura-kura (Odontochelys semitestacea). Hal ini disebabkan karena kura-kura termasuk dalam golongan hewan omnivora, yaitu jenis hewan pemakan segalanya. Dalam hal ini terjadi hubungan interaksi antara ikan Channa striata dengan kura-kura. Dimana kura-kura menjadi predator dan ikannya menjadi mangsa.
Secara anatomi dan morfologi kura-kura memiliki beragam jenis ukuran. Meskipun begitu, kura-kura laut (penyu) memiliki ukuran yang lebih besar dibanding saudaranya di darat dan di air tawar. Chelonian terbesar adalah penyu laut, yakni penyu laut berpunggung bulu (leatherback sea turtle) raksasa, yang panjang tempurungnya mencapai 200 cm dan beratnya dapa mencapai lebih dari 900 kg. Kura-kura air tawar umumnya lebih kecil, tapi spesies terbesarnya adalah labi-labi (kura-kura bertulang rawan) di Asia, Pelochelys cantorii, yang dilaporkan oleh beberapa orang memiliki panjang hingga 200 cm (Anugerah. 2002).
Meskipun banyak jenis kura-kura yang hidup di bawah air, seluruh kura-kura air dan darat adalah reptil yang bernapas dengan paru-paru, dan harus naik ke permukaan pada jangka waktu yang teratur untuk mengisi ulang paru-parunya dengan udara segar. Mereka juga bisa menghabiskan hampir seluruh hidupnya di dataran kering. Beberapa spesies memiliki lubang kloaka besar yang dipenuhi oleh banyak proyeksi-proyeksi yang berbentuk seperti jari. Proyeksi ini, disebut “papillae”, memiliki persediaan darah yang melimpah, dan berfungsi untuk meningkatkan wilayah permukaan pada kloaka. Kura-kura air dapat menyaring oksigen yang terkandung dalam air menggunakan papillae ini, hampir sama seperti ikan yang menggunakan insang untuk bernafas. Kura-kura adalah hewan yang bertelur, seperti reptil lainnya, dimana telurnya lembut dan berbulu (Anugerah. 2002).
Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa udang (Penaeus monodon) dapat melakukan interaksi dengan lingkungan. Berdasarkan hasil pengamatan Penaeus monodon tersebut memakan sisa-sisa ikan sepat yang sudah mati dari bekas kepiting, selain itu Penaeus monodon tersebut juga memakan rumput-rumput (hidrylla) yang ada. Pada pengamatan ini Penaeus monodon tersebut dapat  melakukan interaksi dengan lingkungannya. Akan tetapi berbeda halnya dengan pembudidayaan,  proses membudidayakan Penaeus monodon di air tawar juga tak lepas dari kendala. (Slamet. 1982). Terutama dalam mengadaptasikan benur yang sudah terbiasa hidup di air yang salinitasnya tinggi (30 ppt) untuk terbiasa hidup di air tawar (salinitas 1-2 ppt). “Makanya masa adaptasi tersebut sangat menentukan. Biasanya para pembenih mengadaptasikan benur ukuran PL 12 dengan cara mengurangi salinitas 1 ppt/hari. Ukuran benur yang akan ditanam juga lebih besar, yaitu PL 30-40 (Syaiful. 2008).
Ikan tanah (Puntius lateristriga) kelihatannya hampir sama dengan jenis ikan krincah (Anabas testudineus). Dimana kedua jenis ikan ini hanya mengkonsumsi jenis lumut-lumutan yang ada dalam ekosistem tersebut. Meski demikian jenis ikan ini dapat melakukan interaksi/penyesuaian diri dengan lingkungan yang ada. Selain itu kedua jenis ikan ini juga memakan bekas sisa-sisa kotoran yang menempel ditubuh Odontochelys semitestacea. Disini kelihatan bahwa kedua jenis ikan dan Odontochelys semitestacea tersebut melakukan hubungan timbal balik (simbiosis mutualisme). Bagi ikan merasa diuntungkan karena bagian tubuhnya bersih dari kotoran dan sisa metabolism yang menempel ditubuhnya, sedangkan ikan mendapatkan makanan.
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain (Darti Satyani. 2005). Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita. Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat.  Interaksi antar komunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan.
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Faktor yang mempengaruhi kehidupan ikan: DO, garam terlarut, penetrasi cahaya, suhu, polusi, konsentrasi organik, penyakit, pH dan lain-lain. Pada pengamatan ini  pH yang didapat adalah rata-rata 5 sedangkan suhu yang didapat adalah rata-rata 28 celcius. Hal ini menunjukkan bahwa pH dan suhunya masih bisa dikatan normal. Kondisi normal ikan inilah yang membuat ikan-ikan dan yang lainnya dapat bertahan hiduap dan sama-sama memberikan interaksi satu sama lain. Dalam pH seperti ini ikan-ikan tersebut dapat berinteraksi satu sama lain.  

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesipulan
1.      Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa interaksi dari prilaku dari masing-masing komponen dalam aquarium saling memberikan interaksi.
2.      Dengan adanya interaksi-interaksi dalam ekosistem buatan tersebut dapat mempertahankan keseimbangannya.
3.      Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.
4.      Pada pengamatan ini factor pH tidak  dapat mengganggu keseimbangan dan interaksi ekosistem. Hal ini ddisebabkan akibat perubahan bahan organik, akan tetapi pada pengamatan ini tidak terlalu kelihatan karena batas waktu pengamatan hanya 3 hari
5.      Volume air berkurang, dan timbulnya lender-lendir pada dinding aquarium dan berbau amis.
Saran
Sarannya adalah seharusnya kura-kura yang digunakan memiliki ukuran yang lebih kecil dan rumput-rumput yang digunakan seharusnya hidrylla atau jenis rumput yang memiliki ukuran yang lebih besar dari pada lumut yang dipakai. 
BAB VI. DAFTAR PUSTAKA

Best Life. 2009. Deskripsi dan Klasifikasi Ikan. http://www.blogger.com/profile/17894251744965327327 (20 Maret 2012)

Edi Atmawinata. 2007. Rahasia dan Seluk Aquarium. Bandung: CV Yrama Widya

Heru susanto. 2003. Membuat Aquarium. Jakarta. Penebar Swadaya, Anggota Ikapi
Lesmana, Darti Satyani. 2005. Kualitas Air Untuk Ikan Hias Air Tawar. Jakarta: Penebar Swadaya, Anggota Ikapi
Mismail, budiono. 2010. Aquarium Terumbu Karang. Malang: universitas Brawijaya Press (UB Press)
Nontji, Anugerah. 2002. Laut Nusantara. Cetakan Ketiga. Jakarta: Djambatan

Syaiful. 2008. Udang di Air Tawar, Bisa! Udang windu maupun vaname bisa hidup dalam kisaran kadar garam yang sangat lebar, antara 0,5 ppt sampai 45ppt. http://www.blogger.com/profile/09050366363459132364

         [20 Maret 2012]

Safran Makmur & Dina Muthmainnah. 2009. Sudahkah Anda Tahu?? Kearifan Lokal:  Mampukah Melestarikan Ikan Semah di Indonesia. Edisi Desember 2009 no. 1. http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/?category_id=104 [20 Maret 2012]
Syariffauzi. 2009. Ikan Gabus (Haruan/snakehead/Channa striata). http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan [20 Maret 2012]